KRISIS
MUTIVASI BELAJAR KITAB KUNING SANTRI PP
AL-BUKHORI GANJARAN GONDANGLEGI MALANG

Oleh:
Kholilurrohim
NIM.
201008400010051
NIMKO. 2010.4.084.0001.1.00319
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-QOLAM
GONDANGLEGI
MALANG
2012
PROPOSAL PENELITIAN
KRISIS MUTIVASI
BELAJAR KITAB KUNING SANTRI PP
AL-BUKHORI GANJARAN GONDANGLEGI MALANG
A. Konteks Penelitian
Pondok pesantren PP Al-Bukhori RU V
adalah salah satu lembaga pendidikan non formal yang ada di sekian banyak
pondok pesantren di ganjaran gondanglegi malang, yang mana di dalamnya juga ada
kitab klasik/kuning, yang sangat di anjurkan dalam pondok pesantren PP
Al-Bukhori RU V bahkan juga ada dalam pondok pesantren yang lain seperti Ilmu
Tafsir, Fikih, Risalatulmahed, Akhlak, Nahu, Sorrof dan masih banyak
kitab-kitab yang lain yang harus di pelajari pomdok pesantren PP Al-Bukhori RU
V.
Namun, fakta
yang terjadi di pondok pesantren Al-Bukhori yang berkaitan dengan kitab yang
ada di P.P AL-Bukhori khususnya pelajaran nahwu dan sharraf cukup mengecewakan.
Karena santri sulitan untuk memperaktekannya dalam proses BMK(bimbingan membaca
kitab kuning) mereka hanya dapat menghafal isi dari kedua ilmu tersebut tampa sering melatih untuk membaca
kitab yang bisa di katakan tampa harkat dan makna. Sedangkan tujuan dari kedua
ilmu dasar ini adalah santri dapat membaca dan memahami isi kitab yang tampa
harkat dan makna. Santri lebih mengedepankan pembelajaran umum daripada
pemelajaran kitab kuning, Nilai ujian kitab kuning sangat merosot di bandingkat
pelajran umum, anak malas belajar kitab kuning karena sulit untuk mengerti.
Ironinya apa yang di inginkan oleh
Ustadz, Pengurus beserta Pengasuh pondok pesantren PP Al-Bukhori RU V tidak
sesai dengan visi dan misi yang ada d pondok pesantren PP AL-Bukhori RU V.
Ganjaran gondanglegi malang.
B. Konteks
Penelitian
Mengaju kepada latar belakang di
atas, maka secara oprasional, pokok permasalahan yang akan di teliti dalam
peneliti ini sebagai berikut:
1.
Faktor-Faktor apa saja yang menyebabkan
rendahnya motivasi belajar kitab kuning santri PP Al-Bukhori RU V ganjaran
gondamglegi malang?
2. Apa respon
Pengasuh, Ustadz dan Pengurus PP Al-Bukhori terhadap rendahnya motivasi
tersebut?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui sejauh mana krisis mutifasi belajar kitab kuning di pondok pesantren
AL-BUKHORI RU V ganjaran gondanglegi malang, yaitu dengan cara:
1.
Ingin mengetahui faktor-faktor apa saja
yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar kitab kuning santri PP Al-Bukhori
RU V ganjaran gondamglegi malang
2.
Ingin mengetahui respon Pengasuh,
Ustadz dan Pengurus PP Al-Bukhori terhadap rendahnya motivasi tersebut
D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan
memberikan ragam kontribusi
sebagai berikut:
1.
Secara reoritisPenelitian ini di
harapkan memberi kontribusi terhadap keilmuan, seperi halnya mitode
pembelajran.
2.
Secara praktis. Penelitian ini di
harapkan bisa memberikan riel pemikiran kepada:
a. Kepada ketua
P.P. Al-Bukhori 1 sebagai pengatur srtuktur dan sistem pondok.
b. Kepada
ust/ustd yang mengajar di PP AL-BUKHORI RU V.
E. KajianPeneliti Sebelumnya
Dalam konteks
industrialisasi mutivasi belajar, setidaknya ada empat penelitian yang telah
dilakukan, yaitu: 1) penelitian Sardiman A,[1] 2) peneliti Haris Mudjiman [2] 3) peneliti Huitt, W.[3] dan 4) peneliti Erikson,
James Marcia,[4] Jika Penelitian 1 dan 2, ini
lebih konflik kepada tentang faktor pengrmbngan motif belajar siswa. dan
peneliti k 3 konflik kepda krisis motivasi belajar yang di akibatkan oleh
lingkungan dan orang tua
Dalam konteks wacana di Al-Bukhori , empat penelitian di atas memang sangat
menarik, karena sebuah pergulatan wacana dan benturan kepentingan seputar, baik
antara Pengurus Ustdz dan Pengasuh pondok pesantren Al-Bukhori sendiri. Namun,
jika dikaitkan dengan perkembangan terakhir, di mana pondok pesantren
Al-Bukhori akan besar-besaran akan minat belajar kitab kuning, maka kajian
persepsi sudah tidak relevan lagi. Sejauh mana pondok pesantren Al-Buklhori
bersiap diri dan bentuk-bentuk pemberdayaan apa saja yang sudah dilakukan, terutama oleh
pondok-podok pesantren, jauh lebih relevan untuk diteliti. Itulah titik
pembeda antara penelitian ini dan empat penelitian di
atas.
F. kajianTeori
Menurut Mc.
Donald, yang dikutip[5]. motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang
ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan
pengertian ini, dapat dikatakan bahwa
motivasi adalah sesuatu yang kompleks yang akan menyebabkan terjadinya suatu
perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan
persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak
atau melakukan sesuatu. mendefinisikan
motivasisebagai suatu energi penggerak dan pengarah, yang dapat
memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Ini berarti perbuatan
seseorang tergantung motivasi yang mendasarinya. Motivasi adalah sesuatu yang
dibutuhkan untuk melakukan aktivitas. Masih dalam artikel motivasi secara
harafiah yaitu sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar
atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
Sedangkan secara psikologi, berarti usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau
kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang
dikehendakinya, atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Sedangkan,
definisi belajar itu sendiri Menurut Winkel, belajar adalah semua aktivitas mental
atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman. dalam belajar merupakan proses perbuatan yang
dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya
berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya
relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa
diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat
kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainyaMenurut[6].
Sedangkan Pengertian Belajar menurut.
belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah
laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi
belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi
akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan
serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
definisi belajar adalah suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam
interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan
yang bisa di ambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya,
belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dariuraian di atas, dapat di simpulkan bahwa motivasi belajar
adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena di dorong oleh keinginannya
untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar.
Kegiatan itu di lakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencapai
tujuan. Selainitu, motivasi belajar juga merupakan suatu keadaan atau kondisi
yang mendorong, merangsang atau menggerakan seseorang untuk belajar sesuatu atau
melakukan kegiatan untuk mencapai suatutujuan.
Sumber: SebuahSituasi yang Memotivasi.
Gambar 1 menunjukkan sebuah situasi yang memotivasi, di
mana motif-motif seorang individu, di arahkan kearah pencapaian tujuan.Motifterkuat,
menimbulkan perilaku, yang bersifat di arahkan kepada tujuan atau aktivitas tujuan.
Mengingat bahwa tidak semua tujuan dapat dicapai, maka para individu tidak selalu
mencapai aktivitas tujuan, terlepas dari kekuatan motif yang ada. Jadi dengan demikian aktivitas tujuan dinyatakan dalam gambar berupa garis putus-putus.
Motivasi dapat di bagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1.
Motivasi Intrinsik
adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang berasal dari diri individu itu
sendiri.
Dikatakan
motivasi intrinsik apabila seorang siswa termotivasi untuk belajar semata-mata
untuk menguasai ilmu pengetahuan bukan karena motif lain seperti pujian, nilai
yang tinggi, atau hadiah. Motivasi itu muncul karena ia merasa
membutuhkan sesuatu dari apa yang ia pelajari. Kesadaran pentingnya terhadap apa
yang di pelajari adalah sangat penting untuk memunculkan motivasi intrinsik.
Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik maka selalu ingin maju dalam belajar
serta haus ilmu pengetahuan.
2.
Motivasi Ekstrinsik
adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena adanya perangsang dari luar
diri individu.
Peserta didik
belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang
dipelajarinya, seperti nilai yang tinggi, kelulusan, ijazah, gelar, kehormatan
dan lain-lain. Motivasi ekstrinsik meskipun kurang baik akan tetapi sangat
diperlukan dalam proses pendidikan agar anak didik mau belajar. Motivasi
ekstrinsik tidak selalu buruk. Ia sering digunakan karena bahan pelajaran
kurang menarik perhatian anak didik.
Dalam dunia
pendidikan, motivasi untuk belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa
motivasi, seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik.
Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik. Pembelajaran
dikatakan baik jika tujuan awal, umum dan khusus tercapai. Orang dewasa yang
mempunyai need to know / kebutuhan akan keingintahuan yang tinggi,
mempunyai karakteristik yang berbeda dalam hal psikologis mereka. Motivasi belajar tentu berkaitan dengan psikologis peserta didik orang dewasa.
Ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan motivasi belajar, yaitu lingkungan
budaya, keluarga, sekolah dan siswa itu sendiri. Motivasi belajar bisa menurun akibat
ambisi orang tua atau sistem peringkat di sekolah. Memak sasiswa menerima beban
melebihi kapasitasnya tentu saja membuat siswa berkembang secara tidak sehat.
Keinginan menciptakan siswa ”hebat” justru bisa menghasil kansiswa yang
bermasalah.
Terkadang,
motivasi belajar dapat pula terpengaruh oleh beberapa sebab, berikut di jabarkan
berbagai sebab/faktor yang dapat menurunkan motivasi belajar pesertadidik orang
dewas, yaitu: 1)Kehilangan harga diri 2)Ketidak
nyamanan Fisik 3)Frustasi
4)Teguran yang tidak dimengerti 5)Menguji dengan yang belum diajarkan 6)Materi terlalu sulit/ mudah
7) Persaingan yang tidak sehat 8)Presentasi yang membosankan 9) Pelatih/
fasilitator tidak menaruh minat 10) Tidak mendapatkan umpan balik 11) Harusbelajardengankecepatan
yang sama 12) Berkelompok dengan orang yang sama-sama kurang 13)
Harus bertingkah yang tidak sesuai dengan pembimbingnya
G. MitodePenelitian
1.
Pendekatan
Jenis
peneliti ini adalah peneliti kualitatif diskriftif, karena pada dasarnya penelitian
ini mengunakan mitodede duktif dan induktif, berangkat dari pengetahuan yang
bersifat umum dan bertitik tolak pada
pengetahuan yang bersifat khusus. Maksudnya di mulai Dengan pernyataan umum di
susun Dengan urain atau penjelasan yang khusus.[7]atau
bisa di sebut suatu pendekatan yang berangkat dari suatu karangan tiori,
gagasan para ahli maupun pemahaman penelitian menurut pengalamannya, kemudian
di kembangkan menjadi permasalahn-permasalahan beserta pemecahannya yang di
ajukan untuk memperoleh kebenran (farivikasi) dalam bentuk dukungan data
impiris di lapangan.
Metode
kualitatif diskriptif ini di gunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan
metode kualitatif lebih muda apabila berhadapan Dengan pernyataan ganda; kedua
,metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan
responden; ketiga, metode ini lebihpeka dan lebih dapat menyesuaikan diri
Dengan menijmen pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
Menurut
bogdab sebagai mana yang di kutip oleh Sugiono Metode penelitian kualitatif di ketahui setelah memasuki objek dengan cara membaca
berbagai infoemasi tertulis, gambar-gambar, berfikir dan melihat objek aktifitas oarang yang ada di sekelilingnya, melakukan wawancara,
catatat lapangan, dukumin pribadi atau dukumin resmilainya.[8]
2. Sumber Data
Data yang
akan di galih dalam peneliti ini adadua sumber yaitu:
a. Sumber
data lapangan, yaitu pimpinan atau pengasuh pondok pesantren besertapengurus,
guru yang ada di sekitar lapangan. Informan awal dipilih dengan menggunakan teknik pusposive sampling, sementara
informan berikutnya ditentukan dengan tekniksnowball sampling[9]
b. Sumber data dokumenter, berupa: 1)
pengumuman, instruksi, aturan, laporanrapat dan keputusan pimpinan dan
semacamnya yang di simpan oleh pondok-pondok pesantren sebagai arsip organisasi, dan 2) bahan-bahan informasi
yang di hasilkan suatu lembaga sosial atau individu, semisal laporan penelitian
ataupun buku catatan.
3. Teknik Penggalian Data
Teknik pengumpulan data yang akan peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a. Observasi akan peneliti lakukan dengan
pengamatan secara langsung terhadap sasaran penelitian, yaitu aktivitas yang
ada di sekitar lingkungan santri tujuannya sejauh mana keterlibatan lingkungan pondok
pesantren terhadap santri yang ada di sekitar pondok pesantre.
b. Wawancara mendalam (in depth
interview) akan peneliti lakukan dalam dua level, yaitu:
1. Level
atas, yaitu wawancara dengan para pimpinan lembaga pondok pesantrn.
2. Level bawah—sebagai data
pembanding, yaitu wawancara dengan pengurus pondok,
ustadz dan santri yang ada di lingkungan tersebut.
c. Dokumentasiakan peneliti
gunakan untuk mencari data ataudukumen-dukumen yang ada di
pomdokpesantrentersebut dan tulisan-tulisan yang relevan yang di lakukan pada
wakturapatDenganpengasuh.
Oleh karena merupakan peneliti kualitatif,
maka pengumpulan data dan analisis data akan peneliti lakukan secara simultan dan terus-menerus. Data yang di peroleh akan langsung peneliti analisis melalui proses
reduksi data (data reduction), organisasi data (data organization)
dan penarikan kesimpulanya (conclusion drawing and verification).
4.Teknik Pengecekan Keabsahan Data
Pemeriksaan keabsahan data akan peneliti lakukan berdasarkan empat
kreteria sebagaimana yang di terapkan oleh moleong [10]yaitu:
a.
Derajat kepercayaan (creadibility); akan peneliti
lakukan dengan beberapa teknik berikut: (1) perpanjangan keikutsertaan, (2)
ketekunan pengamatan, (3) triangulasi, utamanya dalam hal sumber data dan
teknik penggalian data, dan (4) pemeriksaan sejawat.
b.
Derajat keteralihan (transferability); akan
peneliti lakukan dengan cara melaporkan hasil penelitian secermat dan selengkap
mungkin serta menggambarkan konteks dan pokok permasalahan secara jelas.
c.
Derajat kebergantungan (dependability); akan
peneliti lakukan dengan cara memberikan hasil penelitian, termasuk
“bekas-bekas” kegiatan penelitian, kepada seorang auditor untuk diperiksa
apakah temuan-temuan penelitian telah bersandar pada hasil di lapangan.
d.
Derajat kepastian (confirmability); akan peneliti
lakukan dengan cara meminta berbagai pihak untuk melakukan audit kesesuaian
antara temuan dengan data perolehan dan metode penelitian.
H.
Jadwal Penelitian
|
J.
NO
|
KEGIATAN
|
Jul ‘11
|
Agu ‘11
|
Sep ‘11
|
Okt ‘11
|
Nop ‘11
|
Des ‘11
|
Jan ‘12
|
||||||||||||||||||||||
|
1
|
Studipendahuluan
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Penyusunan
proposal
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Seminar
proposal
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Perbaikan
proposal
|
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Pengumpulan
data
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
X
|
x
|
X
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Analisis
data
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
X
|
x
|
X
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Penulisanlaporanpenelitian
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
X
|
x
|
X
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Presentasilaporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Revisilaporanpenelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
Pengesahan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
|
I.
Kadtar Rujukan
Lexy J. Moleng, MetodologiPenelitianKualitatif, cetakan XIV (Bandung: PT
RemajaRosdakarya Offset, 2001), halaman 173-188).
Sugono, MemahamiPenelitianKualitatif, Cetke 4 (Bandung:
CV Alfabeta, 2008) hlm 16
Abdullah Ambar, intrinsic
tatabahasaibdonisia, (bandung:Ijatmiko
1984) hlm 193
Haris Mudjiman mutivasi belajar, Struktur Pembelajaran dan Motivasi Belajar (2005) halaman 70-72
Menurut Ernest R.
Hilgard (Sumardi Suryabrata, 1984), halaman 252.
Oemar
Hamalik mutivai belajar (2003), halaman 58.
Erikson,
James Marcia mutivasi belajar Struktur Pembelajaran dan
Motivasi Belajar (1980)
Huitt, W. mutivasi belajar,
Struktur Pembelajaran dan
Motivasi Belajar 2001)
Sardiman A mutifasi belajar, interaksi dan mutivai belajar mengajar, (1990)
[5]
Oemar Hamalik mutivai belajar
(2003), halaman 58.
[6]
Menurut Ernest R.
Hilgard (Sumardi Suryabrata, 1984), halaman 252.
[9]Sanggar Kanto, dalamBurhanBungin,
2007: halaman 53
[10]Lexy J. Moleng, MetodologiPenelitianKualitatif, cetakan XIV (Bandung: PT
RemajaRosdakarya Offset, 2001), halaman 173-188).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar