Jumat, 21 September 2012

proposal penelitian





KRISIS MUTIVASI BELAJAR KITAB KUNING SANTRI  PP AL-BUKHORI GANJARAN GONDANGLEGI MALANG









Description: Description: al-qolam Sip








Oleh:
Kholilurrohim
NIM. 201008400010051
NIMKO. 2010.4.084.0001.1.00319





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-QOLAM
GONDANGLEGI MALANG
2012

 
PROPOSAL PENELITIAN

KRISIS MUTIVASI BELAJAR KITAB KUNING SANTRI  PP AL-BUKHORI GANJARAN GONDANGLEGI MALANG

A. Konteks Penelitian
Pondok pesantren PP Al-Bukhori RU V adalah salah satu lembaga pendidikan non formal yang ada di sekian banyak pondok pesantren di ganjaran gondanglegi malang, yang mana di dalamnya juga ada kitab klasik/kuning, yang sangat di anjurkan dalam pondok pesantren PP Al-Bukhori RU V bahkan juga ada dalam pondok pesantren yang lain seperti Ilmu Tafsir, Fikih, Risalatulmahed, Akhlak, Nahu, Sorrof dan masih banyak kitab-kitab yang lain yang harus di pelajari pomdok pesantren PP Al-Bukhori RU V.
Namun, fakta yang terjadi di pondok pesantren Al-Bukhori yang berkaitan dengan kitab yang ada di P.P AL-Bukhori khususnya pelajaran nahwu dan sharraf cukup mengecewakan. Karena santri sulitan untuk memperaktekannya dalam proses BMK(bimbingan membaca kitab kuning) mereka hanya dapat menghafal isi dari kedua ilmu  tersebut tampa sering melatih untuk membaca kitab yang bisa di katakan tampa harkat dan makna. Sedangkan tujuan dari kedua ilmu dasar ini adalah santri dapat membaca dan memahami isi kitab yang tampa harkat dan makna. Santri lebih mengedepankan pembelajaran umum daripada pemelajaran kitab kuning, Nilai ujian kitab kuning sangat merosot di bandingkat pelajran umum, anak malas belajar kitab kuning karena sulit untuk mengerti.
Ironinya apa yang di inginkan oleh Ustadz, Pengurus beserta Pengasuh pondok pesantren PP Al-Bukhori RU V tidak sesai dengan visi dan misi yang ada d pondok pesantren PP AL-Bukhori RU V. Ganjaran gondanglegi malang.

B.        Konteks Penelitian
            Mengaju kepada latar belakang di atas, maka secara oprasional, pokok permasalahan yang akan di teliti dalam peneliti ini sebagai berikut:
1.    Faktor-Faktor apa saja yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar kitab kuning santri PP Al-Bukhori RU V ganjaran gondamglegi malang?
2.    Apa respon Pengasuh, Ustadz dan Pengurus PP Al-Bukhori terhadap rendahnya motivasi tersebut?

C. Tujuan Penelitian
          Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana krisis mutifasi belajar kitab kuning di pondok pesantren AL-BUKHORI RU V ganjaran gondanglegi malang, yaitu dengan cara:
1.        Ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar kitab kuning santri PP Al-Bukhori RU V ganjaran gondamglegi malang
2.        Ingin mengetahui respon Pengasuh, Ustadz dan Pengurus PP Al-Bukhori terhadap rendahnya motivasi tersebut

D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan memberikan ragam kontribusi sebagai berikut:
1.             Secara reoritisPenelitian ini di harapkan memberi kontribusi terhadap keilmuan, seperi halnya mitode pembelajran.
2.             Secara praktis. Penelitian ini di harapkan bisa memberikan riel pemikiran kepada:
a. Kepada ketua P.P. Al-Bukhori 1 sebagai pengatur srtuktur dan sistem pondok.
b. Kepada ust/ustd yang mengajar di PP AL-BUKHORI RU V.

E. KajianPeneliti Sebelumnya
Dalam konteks industrialisasi mutivasi belajar, setidaknya ada empat penelitian yang telah dilakukan, yaitu: 1) penelitian Sardiman A,[1] 2) peneliti Haris Mudjiman [2] 3) peneliti Huitt, W.[3] dan 4) peneliti Erikson, James Marcia,[4]  Jika Penelitian 1 dan 2, ini lebih konflik kepada tentang faktor pengrmbngan motif belajar siswa. dan peneliti k 3 konflik kepda krisis motivasi belajar yang di akibatkan oleh lingkungan dan orang tua
Dalam konteks wacana di Al-Bukhori , empat penelitian di atas memang sangat menarik, karena sebuah pergulatan wacana dan benturan kepentingan seputar, baik antara Pengurus Ustdz dan Pengasuh pondok pesantren Al-Bukhori sendiri. Namun, jika dikaitkan dengan perkembangan terakhir, di mana pondok pesantren Al-Bukhori akan besar-besaran akan minat belajar kitab kuning, maka kajian persepsi sudah tidak relevan lagi. Sejauh mana pondok pesantren Al-Buklhori bersiap diri dan bentuk-bentuk pemberdayaan apa saja yang sudah dilakukan, terutama oleh pondok-podok pesantren, jauh lebih relevan untuk diteliti. Itulah titik pembeda antara penelitian ini dan empat penelitian di atas.

F. kajianTeori
Menurut Mc. Donald, yang dikutip[5]. motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian ini,  dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks yang akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. mendefinisikan motivasisebagai suatu energi penggerak dan pengarah, yang dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Ini berarti perbuatan seseorang tergantung motivasi yang mendasarinya. Motivasi adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas. Masih dalam artikel motivasi secara harafiah yaitu sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Sedangkan secara psikologi, berarti usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya, atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Sedangkan, definisi belajar itu sendiri Menurut Winkel, belajar adalah semua aktivitas mental atau  psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman. dalam belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainyaMenurut[6]. Sedangkan Pengertian Belajar menurut. belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil  pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa di ambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dariuraian di atas, dapat di simpulkan bahwa motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena di dorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. Kegiatan itu di lakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencapai tujuan. Selainitu, motivasi belajar juga merupakan suatu keadaan atau kondisi yang mendorong, merangsang atau menggerakan seseorang untuk belajar sesuatu atau melakukan kegiatan untuk mencapai suatutujuan.
Sumber: SebuahSituasi yang Memotivasi.
Gambar 1 menunjukkan sebuah situasi yang memotivasi, di mana motif-motif seorang individu, di arahkan kearah pencapaian tujuan.Motifterkuat, menimbulkan perilaku, yang bersifat di arahkan kepada tujuan atau aktivitas tujuan.  Mengingat bahwa tidak semua tujuan dapat dicapai, maka para individu tidak selalu mencapai aktivitas tujuan, terlepas dari kekuatan motif yang ada. Jadi dengan demikian aktivitas tujuan dinyatakan dalam gambar berupa garis putus-putus.
Motivasi dapat di bagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1.   Motivasi Intrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang berasal dari diri individu itu sendiri.
            Dikatakan motivasi intrinsik apabila seorang siswa termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai ilmu pengetahuan bukan karena motif lain seperti pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah. Motivasi itu muncul karena ia merasa membutuhkan sesuatu dari apa yang ia pelajari. Kesadaran pentingnya terhadap apa yang di pelajari adalah sangat penting untuk memunculkan motivasi intrinsik. Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik maka selalu ingin maju dalam belajar serta haus ilmu pengetahuan.
2.   Motivasi Ekstrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena adanya perangsang dari luar diri individu.
            Peserta didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal  yang dipelajarinya, seperti nilai yang tinggi, kelulusan, ijazah, gelar, kehormatan dan lain-lain. Motivasi ekstrinsik meskipun kurang baik akan tetapi sangat diperlukan dalam proses pendidikan agar anak didik mau belajar. Motivasi ekstrinsik tidak selalu buruk. Ia sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik.
Dalam dunia pendidikan, motivasi untuk belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa motivasi, seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik. Pembelajaran dikatakan baik jika tujuan awal, umum dan khusus tercapai. Orang dewasa yang mempunyai need to know / kebutuhan akan keingintahuan yang tinggi, mempunyai karakteristik yang berbeda dalam hal psikologis mereka. Motivasi belajar tentu berkaitan dengan psikologis peserta didik orang dewasa. Ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan motivasi belajar, yaitu lingkungan budaya, keluarga, sekolah dan siswa itu sendiri. Motivasi belajar bisa menurun akibat ambisi orang tua atau sistem peringkat di sekolah. Memak sasiswa menerima beban melebihi kapasitasnya tentu saja membuat siswa berkembang secara tidak sehat. Keinginan menciptakan siswa ”hebat” justru bisa menghasil kansiswa yang bermasalah.
Terkadang, motivasi belajar dapat pula terpengaruh oleh beberapa sebab, berikut di jabarkan berbagai sebab/faktor yang dapat menurunkan motivasi belajar pesertadidik orang dewas, yaitu:  1)Kehilangan harga diri  2)Ketidak nyamanan Fisik 3)Frustasi  4)Teguran yang tidak dimengerti 5)Menguji dengan yang belum diajarkan 6)Materi terlalu sulit/ mudah 7) Persaingan yang tidak sehat 8)Presentasi yang membosankan 9) Pelatih/ fasilitator tidak menaruh minat 10) Tidak mendapatkan umpan balik 11) Harusbelajardengankecepatan yang sama 12) Berkelompok dengan orang yang sama-sama kurang 13) Harus bertingkah yang tidak sesuai dengan pembimbingnya

G. MitodePenelitian
1.        Pendekatan
            Jenis peneliti ini adalah peneliti kualitatif diskriftif, karena pada dasarnya penelitian ini mengunakan mitodede duktif dan induktif, berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum dan bertitik tolak pada pengetahuan yang bersifat khusus. Maksudnya di mulai Dengan pernyataan umum di susun Dengan urain atau penjelasan yang khusus.[7]atau bisa di sebut suatu pendekatan yang berangkat dari suatu karangan tiori, gagasan para ahli maupun pemahaman penelitian menurut pengalamannya, kemudian di kembangkan menjadi permasalahn-permasalahan beserta pemecahannya yang di ajukan untuk memperoleh kebenran (farivikasi) dalam bentuk dukungan data impiris di lapangan.
            Metode kualitatif diskriptif ini di gunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih muda apabila berhadapan Dengan pernyataan ganda; kedua ,metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden; ketiga, metode ini lebihpeka dan lebih dapat menyesuaikan diri Dengan menijmen pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
            Menurut bogdab sebagai mana yang di kutip oleh Sugiono Metode penelitian kualitatif di ketahui setelah memasuki objek dengan cara membaca berbagai infoemasi tertulis, gambar-gambar, berfikir dan melihat objek aktifitas oarang yang ada di sekelilingnya, melakukan wawancara, catatat lapangan, dukumin pribadi atau dukumin resmilainya.[8]

2. Sumber Data
            Data yang akan di galih dalam peneliti ini adadua sumber yaitu:
a. Sumber data lapangan, yaitu pimpinan atau pengasuh pondok pesantren besertapengurus, guru yang ada di sekitar lapangan. Informan awal dipilih dengan menggunakan teknik pusposive sampling, sementara informan berikutnya ditentukan dengan tekniksnowball sampling[9]
b. Sumber data dokumenter, berupa: 1) pengumuman, instruksi, aturan, laporanrapat dan keputusan pimpinan dan semacamnya yang di simpan oleh pondok-pondok pesantren sebagai arsip organisasi, dan 2) bahan-bahan informasi yang di hasilkan suatu lembaga sosial atau individu, semisal laporan penelitian ataupun buku catatan.

3. Teknik Penggalian Data
Teknik pengumpulan data yang akan peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi akan peneliti lakukan dengan pengamatan secara langsung terhadap sasaran penelitian, yaitu aktivitas yang ada di sekitar lingkungan santri tujuannya sejauh mana keterlibatan lingkungan pondok pesantren terhadap santri yang ada di sekitar pondok pesantre.
b. Wawancara mendalam (in depth interview) akan peneliti lakukan dalam dua level, yaitu:
1. Level atas, yaitu wawancara dengan para pimpinan lembaga pondok pesantrn.
2. Level bawahsebagai data pembanding, yaitu wawancara dengan pengurus pondok, ustadz dan santri yang ada di lingkungan tersebut.
c. Dokumentasiakan peneliti gunakan untuk mencari data ataudukumen-dukumen yang ada di pomdokpesantrentersebut dan tulisan-tulisan yang relevan yang di lakukan pada wakturapatDenganpengasuh.
            Oleh karena merupakan peneliti kualitatif, maka pengumpulan data dan analisis data akan peneliti lakukan secara simultan dan terus-menerus. Data yang di peroleh akan langsung peneliti analisis melalui proses reduksi data (data reduction), organisasi data (data organization) dan penarikan kesimpulanya (conclusion drawing and verification).

4.Teknik Pengecekan Keabsahan Data
Pemeriksaan keabsahan data akan peneliti lakukan berdasarkan empat kreteria sebagaimana yang di terapkan oleh moleong [10]yaitu:
a.         Derajat kepercayaan (creadibility); akan peneliti lakukan dengan beberapa teknik berikut: (1) perpanjangan keikutsertaan, (2) ketekunan pengamatan, (3) triangulasi, utamanya dalam hal sumber data dan teknik penggalian data, dan (4) pemeriksaan sejawat.
b.        Derajat keteralihan (transferability); akan peneliti lakukan dengan cara melaporkan hasil penelitian secermat dan selengkap mungkin serta menggambarkan konteks dan pokok permasalahan secara jelas.
c.         Derajat kebergantungan (dependability); akan peneliti lakukan dengan cara memberikan hasil penelitian, termasuk “bekas-bekas” kegiatan penelitian, kepada seorang auditor untuk diperiksa apakah temuan-temuan penelitian telah bersandar pada hasil di lapangan.
d.        Derajat kepastian (confirmability); akan peneliti lakukan dengan cara meminta berbagai pihak untuk melakukan audit kesesuaian antara temuan dengan data perolehan dan metode penelitian.

H.  Jadwal Penelitian
J.        NO
KEGIATAN
Jul ‘11
Agu ‘11
Sep ‘11
Okt ‘11
Nop ‘11
Des ‘11
Jan ‘12
1
Studipendahuluan
x



























2
Penyusunan proposal
x



























3
Seminar proposal

x


























4
Perbaikan proposal

x
x

























5
Pengumpulan data



x
x
x
X
x
X
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x







6
Analisis data



x
x
x
X
x
X
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
X







7
Penulisanlaporanpenelitian



x
x
x
X
x
X
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
X







8
Presentasilaporan




























9
Revisilaporanpenelitian





















x
x





10
Pengesahan























x
x
x
x
x

































I. Kadtar Rujukan
Lexy J. Moleng, MetodologiPenelitianKualitatif, cetakan XIV (Bandung: PT RemajaRosdakarya Offset, 2001), halaman 173-188).
Sugono, MemahamiPenelitianKualitatif, Cetke 4 (Bandung: CV Alfabeta, 2008) hlm 16
Abdullah Ambar, intrinsic tatabahasaibdonisia, (bandung:Ijatmiko 1984) hlm 193
Haris Mudjiman mutivasi belajar, Struktur Pembelajaran dan Motivasi Belajar  (2005) halaman 70-72
Menurut Ernest R. Hilgard (Sumardi Suryabrata, 1984), halaman 252.
Oemar Hamalik mutivai belajar  (2003), halaman 58.

Erikson, James Marcia mutivasi belajar Struktur Pembelajaran dan Motivasi Belajar  (1980)
Huitt, W. mutivasi belajar, Struktur Pembelajaran dan Motivasi Belajar 2001)
Sardiman A  mutifasi belajar,  interaksi dan mutivai belajar mengajar,  (1990)        


                [1] Sardiman A  mutifasi belajar,  interaksi dan mutivai belajar mengajar,  (1990)
                [2] Haris Mudjiman mutivasi belajar, Struktur Pembelajaran dan Motivasi Belajar  (2005) halaman 70-72
                [3] Huitt, W. mutivasi belajar, Struktur Pembelajaran dan Motivasi Belajar 2001)
            [4]Erikson, James Marcia mutivasi belajar Struktur Pembelajaran dan Motivasi Belajar  (1980)
[5] Oemar Hamalik mutivai belajar  (2003), halaman 58.
[6] Menurut Ernest R. Hilgard (Sumardi Suryabrata, 1984), halaman 252.
[7]Abdullah Ambar, intrinsic tatabahasaibdonisia, (bandung:Ijatmiko 1984) hlm 193
[8]Sugono, MemahamiPenelitianKualitatif, Cetke 4 (Bandung: CV Alfabeta, 2008) hlm 16
[9]Sanggar Kanto, dalamBurhanBungin, 2007: halaman 53
[10]Lexy J. Moleng, MetodologiPenelitianKualitatif, cetakan XIV (Bandung: PT RemajaRosdakarya Offset, 2001), halaman 173-188).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar